Profil

Sepenggal Kisah dari Tanah Papua

Semangat Emas dari Tanah Penghasil Emas!
                                                               Oleh: Aditya Prahesti W., S. Pd
 Kerasnya kehidupan itu benar-benar ada didepan mataku. Aku benar-benar menyaksikan sendiri dengan kedua mataku. Memang tak asing lagi bagiku dengan yang namanya “kerasnya kehidupan”, tapi ini aku benar-benar terlibat dan merasa ikut serta benar ditengahnya. Entah karna aku tak pernah merasakannya ketika aku kecil dulu. Aku selalu terbiasa dengan kemudahan.
 Aku bukan terlahir dari keluarga yang kaya raya, tapi alhamdulillah semua kebutuhan tercukupi. Syukur itu selalu ku ucapkan kepada Tuhan. Tapi kini ketika aku berdiri ditempat ini aku benar-benar ikut merasakan apa yang aku lihat di depan mataku.
 Aku Aditya Prahesti Wikantini, aku kini berdiri ditanah Papua. Provinsi paling timur Indonesia. Aku mengikuti Program dari Kementerian Pendidikan Indonesia dalam SM-3T (Sarjana Mengajar di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal). Aku bertugas mengabdi di Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. Tempat paling tinggi di Papua.
 Kabuaten Pegunungan Bintang, daerah yang benar-benar gunung. Sebuah tempat yang berselimut gunung. Kanan-kiri gunung. Tak ada gemerlap cahaya lampu kota, motor, mobil apalagi HP. Signal tak ada. Ada Tower tapi rusak, entah kapan diperbaiki. Tak ada yang tahu.
 Aku ditempatkan di Distrik Oksamol, Tinibil. Distrik yang jauh dari kota dan transportasi hanya dengan pesawat perintis. Tempat yang aku tempati adalah tempat yang berbatasan langsung dengan Negara Papua NewGuinea. Hanya berjalan sekitar 1 hari kita akan sampai di Negara PNG.
 Orang-orang Oksamol selalu menyebutnya dengan nama PNG. Sering mereka bermasalah dengan orang-orang PNG karena permasalahan tanah yang katanya masih milik NKRI atau pun sebaliknya. Disini sering juga baku bunuh. Mengerikan bukan? Semoga aku disini dan teman-teman terjaga. Amin
 Papua, Kabupaten Pegunungan Bintang terkenal mahalnya harga sembako dan harga-harga barang lainnya. Harga aqua satu liter saja Rp. 30.000, bandingan yang jauh bukan kalau dijawa. Ditempatku hanya Rp.2.000. Harga beras satu liter Rp.50.000. Uang Rp. 1.000.000 disini itu tak berarti apa-apa, untuk datang ke kios satu kali waktu, uang itu akan lenyap dalam hitungan menit dan hanya mendapat beberapa barang saja. Coba kalo dijawa, akan dapat berlebih dengan uang segitu.
 Masyrakat Oksamol itu makanan pokoknya itu ubi dan talas. Mereka selalu makan itu sehari-hari. Kadang dibakar, kadang di rebus. Mereka makan nasi hanya sesekali, itupun kalau mereka punya uang atau ada pembagian beras dari pemerintah, kalau tidak jelas mereka mengandal kebun mereka untuk sehari-hari.
 Keras yang terlalu keras menurutku. Kerasnya kehidupan level paling atas bagi pandanganku. Kini aku benar-benar menjumpai dan merasakan sendiri. Bukan omong kosong tapi nyata. Kalian semua tahu pendidikan itu mahal kan? Lebih mahal lagi disini teman. Belum bayar sekolah, peralatan sekolah. Tapi semua itu jika tidak ditempat aku disini akan terjangkau. Orang tua akan selalu berusaha untuk pendidikan. Beruntung disini sekolah gratis, tapi peralatan sekolah yang harus mereka bawa teramat mahal, padahal kehidupan merka sehari-hari saja susah.
 Tapi coba kalian tengok ditempatku kini. Kalian tahu harga satu buku disini berapa? Dari Rp.10.000 sampai Rp.20.000 teman. Mahal? Bukan mahal lagi bukan? Ditempat kita di Jawa, dapat banyak buku dengan uang segitu, tapi disini satu buku dan kamu punya uangnya itu sudah kebahagiaan luar biasa.
 Aku selalu saja menitikan airmata ketika mengingat itu dan tahu bahwa muridku tak membawa buku karena tak ada uang. Ya Tuhan haruskah aku berlari ke kota untuk membeli buku untuk mereka, padahal jarak yang teramat jauh. Bermil-mil jauhnya. Bukannya hanya gunung, ngarai pasti dilalui.
 Suatu hari Distrik kami kedatangan para pekerja bangunan dari Sentani. Katanya mereka akan membangun rumah untuk kantor POSBANGPOL. Kantor akan didirikan didekat landasan pesawat terbang. Proyek ini seakan anugerah dari Tuhan untuk warga Distrik Oksamol.
 Semua bangunan disini terbuat dari kayu dan triplek. Untuk mendapatkan kayu untuk mendirikan kantor, kayu itu didapat dari hutan. Dihutan itu juga sudah ada orang-orang yang memotong kayu hingga berubah menjadi balok, siap untuk bangunan.
 Kalian tahu apa yang dinamakan anugerah? Orang disini akan mengangkat balok-balok itu dari hutan dan mereka dibayar. Bayaran itu beragam, dari Rp.30.000 hingga Rp. 100.000. Dari balok kecil hingga balok yang besar. Tak hanya orang tua yang mengangkat balok-balok itu. Bahkan anak-anakpun ikut mengangkat bolok itu demi bayaran itu. Mereka mengangkat dari jarak kuranglebih dari 2 km, dengan medan yang naik-turun, penuh batu, duri bahkan lumpur.

Dada ini terasa sesak, airmata ini meleleh seketika murid-muridku banyak juga yang angkat kayu. Sepulang sekolah hingga sore hari. Mereka bisa angkat sampai 4 kali dalam setengah hari. Kadang mereka mengeluh pundak mereka sakit, bahkan kaki mereka terluka karena terlalu lelah tapi dipaksakan.

papua-1
Tapi tahukah kalian, balok itu teramat berharga untuk dibiarkan diangkat orang lain. Mereka juga butuh balok itu. Mereka butuh untuk keperluan mereka. Terutama untuk sekolah.
Ya, mereka sangat bersemangat sekolah, mereka haus akan ilmu. Makanya mereka senang ketika aku, dan temanku datang kesini untuk mengajar dan belajar bersama mereka. Kalian tahu untuk apa uang bayaran mengangkat balok dari jarak yang lebih dari 2km itu? Untuk membeli buku dan seragam sekolah teman.
Semangat mereka untuk bisa sekolah dan belajar itu luar biasa. Mereka tak menghiraukan jauhnya hutan, tak hiraukan sakitnya kaki. Yang penting mereka bisa beli buku, mereka bahagia. Subhanallah

dscn0790

Hingga suatu pagi yang cerah, seperti biasa aku kembali mengajar di sekolah. Aku bertemu dengan anak-anak didikku. Mereka selalu menyapaku dengan bahagia. Dan pagi itu ada yang berbeda. Kulihat beberapa anak mengenakan seragam dan seragam itu masih putih bersih. Seragam itu baru. Biasanya hanya beberapa anak yang berseragam dan itu pun sudah tidak layak pakai menurutku. Ini pandangan berbeda dari sebelumnya. Tapi aku tetap bersyukur da bahagia.
Kudekati salah satu muridku itu, kusapa dia. “Selamat pagi nak,” Sapaku.
“Pagi ibu.” Katanya.
“Semangat ya untuk belajar hari ini?” Kataku kepadanya.
“Semangat ibu.” Jawabnya senang.
“Ada yang lain ya ini, baju dan seragam kamu baru nak?” Kataku pagi itu ketika disekolah sambil tersenyum.
“Iya bu, bagus ya? Kemarin sudah dibayar bu jadi beli” Katanya dengan senyum.
“Bagus nak, jangan lupa belajar yang rajin. “ Kataku tak mampu meneruskan kata-kataku. Aku memalingkan muka, menutupi airmata yang hampir jauh dipipi.
“Ibu.” Katanya mengagetkanku.
“Iya nak.” Kataku sambil tersenyum.
“Aku dan teman-teman juga beli buku bu, kami beli 2 buku bu.” Katanya penuh bangga.
“Iya nak, buku itu penting untukmu, tapi ingat kalo lelah istirahat saja mengangkat balok. Biar kamu juga bisa tetap sekolah.” Kataku tak mampu meembendung airmata ini lagi. Tumpah juga didepan anak didikku.
Subhanallah, buku dan seragam itu mereka dapat dari keringat mereka sendiri. Dari bayaran yang tak seberapa, mereka harus menyisihkan uang untuk keperluan sekolah. Mereka tak kenal lelah, yang mereka tahu mereka bisa belajar, mereka mendapatkan ilmu demi masa depan mereka.
Anak-anak pedalaman yang bersemangat dan selalu berjuang untuk kelak mereka hidup yang lebih baik. Ya Tuhan, balok itu kiriman dari MU untuk mereka. Mereka mampu membeli buku, mampu sekolah itu sudah rejeki luar biasa untuk mereka.

img_20150112_073101
Terus kobarkan semangatmu, nak. Ibu akan terus mendoakan kalian, walaupun nanti ketika ibu sudah tak lagi disamping kalian. Teruskan perjuangan kalian. Kalian anak yang pandai, ibu yakin kalian akan menghancurkan kerasnya hidup. Pendidikan dan hidup sama pentingnya. Belajar dan terus belajar kelak kalian akan menjadi orang yang sukses dan hebat nak. Amin.
Oksamol, 19 Oktober 2014

Tags

1 thought on “Sepenggal Kisah dari Tanah Papua”

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker