Profil

di Timur Indonesia Baktiku

 GURU, SANG SERBA BISA

                                                                                                                                                 Oleh : Ulul Reza, S.Pd.

Tak terbayang maupun terlintas sebelumnya untuk bisa sampai dan menapakkan kaki di Pulau Besar di ujung timur Indonesia, Papua. Pulau dengan seribu keindahan didalamnya. SM-3T (Sarjana Mendidik di Daerah Tedepan Terluar dan Tertinggal) Angkatan ke V, Program dari KEMENRISTEKDIKTI yang membawa diri ini untuk mewujudkan keinginan semangat mudaku untuk mengabdikan diri di pelosok Nusantara, dengan Jargonnya “Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia”. Pertanyaan pun banyak bermunculan dari keluarga, teman-teman maupun rekan kerja. Bagaimana nanti hidup disana? Kalau sakit nanti berobat dimana? Apa ada rumah sakit atau puskesmas? Pertanyaan – pertanyaan seperti itu kerap terlontar dari lisan orang-orang disekelilingku. Insya Allah, “Tuhan yang akan menjaga saya”, jawabku. Saat kita sedang berbuat baik untuk orang lain, sebagai gantinya Tuhanlah yang akan menjaga hidup kita. So, don’t worry guys !

Aku adalah Mahasiswa lulusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Muhammadiyah Purworejo. Universitas kebanggaan di kotaku, Purworejo. Aku memantapkan langkah dan memberanikan diri untuk menjadi bagian dari para pejuang pendidikan di daerah terdepan, terluar dan tertinggal ini. Dengan mengikuti proses selekasi di LPTK Universitas Negeri Jakarta. Seleksi demi seleksi terlewati mulai dari Seleksi administrasi, TPA, TKD, TKB, Psikotes, seleksi tingkat LPTK dan Prakondisi yang waktu itu dilaksanakan di DODIKLATPUR , RINDAM III Siliwangi, Ciuyah, Lebak , Banten. Saat pengumuman penempatan, alhamdulillah Kabupaten Tambrauw, Papua Barat menjadi tempat pengabdianku.

Kabupaten Tambrauw masih sangat asing bagiku. Kabupaten yang terletak di sebelah utara Kota Sorong.kalau dalam peta sih pas diujung kepala burung. Untuk mencapainya dibutuhkan waktu yang tidak cukup singkat , sekitar 4-6 jam melewati hutan atau lautan dari kota Sorong menggunakan transportasi darat maupun laut. Kabupatennya berada di Sausapor. Jangan bayangkan layaknya kabupaten – kabupaten yang ada di Jawa yah. Uhmm It’s totally different. no internet, restaurant or hal-hal mewah lainya. Saya disini mengajar di SD INPRES 83 Hopmare yang notabenenya juga merupakan tempat pengabdian rekan saya Ahmad Nawawi, S.Pd (Guru SM-3T Angkatan IV) entah mengapa kita memiliki takdir yang sama untuk mengabdikan diri di daerah ini. Pertama kalinya menginjakan kaki dikampung ini, aku disambut oleh beberapa anak-anak kecil dan para orang tua. Mereka langsung membantu tanpa sungkan menurunkan barang-barangku. “ Betapa baiknya anak-anak ini “. Di kampung Hopmarie ini listrik belum dirasakan oleh masyarakat, hanya ada beberapa Panel Surya di rumah guru dan di Gereja/Pastori. Sinyal telepon pun ada dengan kualitas yang kurang baik yang bergantung pada cuaca.
Setibanya di rumah guru. aku menyemangati diri sendiri “ inilah rumahku, tempat tingalku, lingkunganku setahun ini “ apapun yang terjadi aku harus kuat dan harus bisa memberikan hal positif untuk lingkunganku. Aku ditempatkan sendiri di kampung ini. Mengajar di daerah seperti ini berbeda dengan mengajar di perkotaan dimana segalanya sudah terfasilitasi dan dikelola dengan baik. Kesabaran, keikhlasan, keuletan dan kreatifitas sangat diutamakan. Selain membantu administrasi di sekolah, Sudah hal lumrah jika disini guru SM-3T di cap sebagai guru serba bisa , mulai dari mengajar kelas rangkap dan berangkap-rangkap dan dari masalah mesin genset, komputer, obat-obatan sampai perkebunan banyak masyarakat yang bertanya dan minta pendapat seorang guru SM-3T, . So, always be prepared and ready to do many things.

reza3

Setiap pagi sebelum masuk ke kelas , aku membiasakan untuk apel pagi, menyanyikan lagu nasional dan melatih baris-berbaris dan berdoa sebelum dan sesudah mengakhiri kegiatan pembelajaran. Upacara benderapun menjadi kewajiban setiap hari Senin. Disini aku melihat anak –anak masih belum bisa disiplin dan teratur dalam baris-berbaris, dari yang tegak, lurus, miring, bengkok sampai yang semaunya sendiri ada dalam barisan. Disela baris – berbaris, biasanya menyisipkan nasehat-nasehat salah satunya untuk selalu mandi sebelum berangkat ke sekolah dan menyisir rambut, mencuci pakaian dan banyak hal kerapihan dan kebersihan lainya. Karena disini aku melihat banyak anak-anak yang pakainya lusuh dan kotor , beberapa juga tidak berseragam.
Siswa – siswi disini masih sedikit yang bisa membaca oleh karena itu setiap sore aku mengadakan belajar tambahan untuk hanya sekedar membantu mereka bisa membaca , menulis dan berhitung. Kita harus sangat sabar mendampingi mereka belajar dan harus benar-benar sederhana dan jelas dalam menjelaskan ke anak-anak. Seiring berlalunya hari aku mulai terbiasa dengan kehidupan masyarakat –masyarakat di kampung ini, oya, masyarakat asli penduduk kabupaten Tambrauw mayoritas adalah suku Abun. Kita bisa tahu dari nama Fam nya biasanya diawali dengan huruf “Y” Contoh ,Maikel Yembra Oskar Yeblo, Yustina Yekese, Anita Yesubut, Isofna Yewer, Dorsina Yewen, Imanuel Yenjau, Meki Yesyan, Markus Yerin. Selvi Yekwam, itu contoh nama dari orang-orang suku Abun. Kalau dibilang masyarakat disini berpendidikan rendah, tapi dalam hal toleransi dan saling menghormati justru aku banyak belajar dari mereka. Mereka sangat menghormati perbedaan. Seperti saat ada acara mereka bilang “Pa Guru bisa makan daging ini kah tidak?” . kemudian saat sedang waktu ibadah mereka bilang “Pa guru ibadah dulu sudah, tong tunggu nanti saja setelah pa guru selesai ibadah. Tara pa pa pa guru. Tong su biasa”. Aku satu-satunya muslim di kampung ini diantara mayoritas Kristen Protestan. Tapi kami tetap dapat hidup berdampingan dalam keharmonisan.
Dalam keseharian aku sudah terbiasa untuk bercengkarama dengan masyarakat kampung Hopmare, tetapi masih banyak masyarakat yang menggunakan bahasa abun jadi terkadang agak susah ditangkap. Oleh karena itu aku mencoba belajar bahasa daerah mereka. Perlahan-lahan ya mengerti sedikit demi sedikit bahasa abun ini. Jadi saat aku sedang jalan dan bertemu seseorang biasa saya menyapa, Kamdo abi (Selamat Siang Mama) atau Sidundo amam (Selamat Pagi Bapak). Abi si amam ben sumane? (mama dan bapa sedang apa?) Terkadang bapa dan mama disana sering mengajak berkebun, melempar jaring atau memancing ikan dilaut. Masyarakat suku abun sangat senang kalau ada orang luar yang bisa bahasa mereka dan mereka akan sangat senang sekali.
Banyak masyarakat yang sangat memerlukan bantuan dari orang-orang seperti guru SM-3T. Dimana guru yang membumi yang memiliki kasih untuk membantu sesama tanpa melihat kekuasaan atau jabatan. Guru yang yang apa adanya yang bekerja degan hati. Banyak anak dan masyarakat yang bertanya “Pak guru jangan pulang kah? Pak guru tinggal saja disini sudah. Tong masih ingin bersama pak guru.” Ini yang membuat hati ini miris dan tertegun. Saya teringat oleh sebuah ungkapan dari dosen saya, Beliau Bapak.Dr. Junaedi Setiyono, M.Pd bahwa “segala sesuatu yang datang dari hati pasti akan sampai ke hati”. Meskipun hanya satu tahun saya rasa tidak cukup untuk memperbaiki dan memberikan banyak hal. Semoga dari hal keikhlasan kecil ini memberikan pelajaran seumur hidup bagi saya dan masyarakat suku abun di Hopmare sana untuk selalu menatap optimis perubahan yang baik dalam segala aspek kehidupan. Bagaimana cara kita beradaptasi di lingkungan baru? Bagaimana kita bersosialisasi? Bagaimana belajar hidup mandiri? Bagaimana cara mendidik dan mengajar dalam segala keterbatasan? SM-3T memberikan inspirasi, motivasi, dan sudut pandang yang baru bagi saya untuk memaknai indahnya sebuah perbedaan dan keberagaman.

reza4

“Karena sejatinya perbedaan dalam kebaikan itu indah”

1 thought on “di Timur Indonesia Baktiku”

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker